![]() |
| Masri Sitanggang, PhD |
MEDAN - Tokoh masyarakat sekaligus aktivis senior asal Sumatera Utara Masri Sitanggang menyampaikan nasihat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto.
Nasihat terbuka itu terdiri dari 10 poin yang berisi kritik membangun agar Presiden Prabowo lebih memahami kondisi masyarakat secara jelas sehingga kebijakan yang diambil benar-benar mampu memperbaiki kondisi rakyat.
Berikut isi lengkap nasihat terbuka yang disampaikan Masri pada Selasa 30 Juni 2026:
Bismillahirrahmanir rahim
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yang Mulia Bapak Presiden Prabowo Subianto. Mengikuti jalannya pemerintahan selama lebih kurang 20 bulan, saya merasa perlu untuk memberi beberapa nasehat kepada Anda. Mudah-mudahan Anda berkenan dengan lapang hati menerimanya.
1. Berhentilah banyak pidato, kerjakan saja apa yang telah Anda pidatokan. Itu sudah cukup bagi rakyat untuk percaya bahwa Anda adalah pemimpin yang selama ini dinantikan dan diharapkan dapat membangun bangsa dan negra ini. Ini bukan lagi masa kampanye. Anda sudah jadi Presiden, Presiden Republik Indonesia yang sah, memiliki kekuasaan menentukan.
Masa kampaye sudah lama terlewati. Rakyat pun tidak merasa perlu lagi mengetahui sejauh mana Anda memahami Indonesia dengan segala potensi dan ragam persoalannya. Ya, rakyat tidak lagi ingin mendengar paparan visi-misi. Menyerang, menyindir atau melecehkan (mantan) kompetitor, apalagi. Rakyat justeru sedang gelisah menunggu realisasi janji kampanye dan apa-apa yang Anda pidatokan selama 20 bulan ini.
2. Berulang kali Anda teriakan di atas mimbar “akan membela rakyat, hidup dan mati bersama rakyat”. Tentu, ini sangat menghibur dan membesarkan hati. Karena itu, tengok dan perhatikanlah dengan seksama bagaimana kehidupan rakyat. Dengarlah suara hati rakyat, rasakan denyut jantung mereka. Selamilah sedalam-dalamnya apa saja keinginan dan kebutuhan rakyat. Janganlah sekali-kali abaikan keluh kesah dan jeritan hati rakyat. Janganlah Anda padakan laporan para pejabat yang Anda angkat. Anda bisa sesat, karena mereka lebih suka jadi penjilat dan pengkhianat dari pada memihak rakyat. Memberi laporan yang menyimpang dari fakta lapangan yang sesungguhnya sangat mudah Anda lihat.
3. Keinginan rakyat sangat sederhana : tercukupi kebutuhan pokok, hidup sehat, tidak bodoh atau dibodohi dan diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat. Itu sudah cukup. Tercukupi kebutuhan pokok artinya: tidak lapar karena bisa makan sesuai standar dan tradisi-budaya, bukan asal makan –mereka yang biasa makan nasi jangan disuruh makan talas atau singkong dengan lauknya keong seperti yang dianjurkan pejabat itu, ada sandang dan rumah tempat berteduh.
Hidup sehat artinya, punya lingkungan dengan air-udara yang bersih dan ada jaminan mendapatkan layanan kesehatan. Tidak bodoh atau dibodohi artinya, rakyat butuh pendidikan –anak-anak bisa mengenyam perguruan tinggi, mendapat pengajaran yang benar dari para pemimpin negeri, bukan pembohongan dan penyesatan.
Karena itu, sampaikanlah segalanya kepada rakyat seperti apa adanya, bukan yang mengada-ada. Semisal dolar naik, sampaikanlah dolar naik dengan segala kemungkinan dampak buruknya agar rakyat cerdas dan bersiap menghadapinya. Jangan perlakukan rakyat seperti anak te-ka yang tidak tahu arti dolar naik. Itu bisa dianggap penghinaan.
4. Niat Anda memberi makan generasi bangsa, adalah sangat mulia. Tidak ada yang bisa menyangkal itu. Tetapi “memberi makan” tidak perlu diartikan secara harfiah seperti MBG : menyuapi generasi dengan makanan siap saji. Di samping cara ini tidak mendidik, juga berpotensi besar menimbulkan masalah. (Terbukti) Jadi lahan baru yang sangat subur untuk usaha korupsi dan persoalan-persoalan lain semisal keracunan.
Memberi makan bisa berarti memberi sumber mata pencaharian, memberi lapangan kerja. Bisa juga berarti memberi modal usaha. Bisa juga berarti mengurangi beban keuangan keluarga –sepeti membebaskan tagihan listrik atau air, pendidikan gratis, atau mengurangi pajak yang saat ini begitu mencekik. Cara-cara ini jauh lebih efisien dan efektif, tidak ada potensi korupsi. Jadi memberi makan dengan cara memberi kail, bukan ikan.
Terlepas dari kualitas makanan yang terbukti menimbulkan banyak korban keracunan, MBG itu tidaklah gratis. Dana MBG disedot dari APBN. Tiga per empat dari APBN, berasal dari pajak rakyat. Jadi MBG sebetulnya (setidaknya ¾) adalah dari uang rakyat. Uang rakyat dikelola oleh pengusaha menghasilkan makanan yang wajib diterima (dikonsumsi) rakyat. Siapa yang diuntungkan ? Ini contoh kecil lain bentuk pembodohan dan pembohongan rakyat. Karena itu pula, Saya menasehatkan Anda : hentikanlah MBG. Ganti MBG dengan listrik atau air atau pendidikan gratis. Atau pembebasan pajak.
5. Semangat Anda untuk menyejahterakan rakyat –sebagaimana sering Anda pidatokan, sungguh patut mendapat acungan jempol. Sebab, dibanding presiden-presiden Ri sebelumnya (mudah-mudahan Saya tidak salah), maka Anda adalah Presiden RI yang paling bersemangat untuk menyejahterakan rakyat. Setidaknya bila dilihat dari pidato di mimbar. Artinya, Anda sungguh memahami dan (sepertinya) berkomitmen untuk menjalankan amanat konstitusi.
Tetapi, bagaimana mungkin rakyat bisa sejahtera bila terus dibebani pajak yang nilai dan jenisnya terus bertambah ? Lihatlah APBN kita. Sebesar 85,41 persen belanja negara bersumber dari pugnutan pajak. Pajak dari rakyat dijadikan tulang punggung utama untuk memenuhi kebutuhan belanja negara. Artinya, pemerintah –yang diberi amanah mengelola negara dengan menguasai bumi dan air dan kekayaan alam yang melimpah begini, cuma menyumbang 14,59 persen.
Jadi, sepertinya “prestasi” pemerintah cuma bisa diukur dari keberhasilan memungut sebesar-besarnya pajak dari rakyat, bukan dari kerja mengelola kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sementara itu, besaran gaji setiap pejabat dan aparat negara –yang berasal dari pajak itu tadi, bisa mencapai puluhan kali lipat dari pendapatan rata-rata rakyat. Dari mana logikanya rakyat bisa sejahtera. Kalau begini nadanya?
Perhatikan juga hal-hal berikut ini. Rakyat kesulitan, harus berjuang keras agar bisa memiliki pekerjaan dan usaha sendiri dengan modal cari sendiri. Kalau rugi, tanggung sendiri. Tapi bila ada penghasilan, wajib setor pajak. Kondisi macam apa ini ? Tampaknya kita perlu membuang jauh-jauh akal waras untuk bisa percaya bahwa rakyat bisa sejahtera dalam sistem pengelolaan negara seperti ini.
Lain kata kalau pemerintah menyediakan lapangan kerja, atau membantu memudahkan buka usaha, atau memberi modal kerja, lalu pemerintah memungut pajak, maka akal waras mana yang tidak percaya bahwa rakyat bisa sejahtera?
Karena itu, Saya menasehatkan Anda : mulai lah secara bertahap kurangi beban pajak rakyat. APBN harus ditopang terutamanya dari hasil mengelola kekayaan Alam Indonesia.
6. Kekayaan alam Indonesia, Alhamdulillah, sungguh sangat melimpah. Bayangkan, berbagai jenis barang berharga ada di atas dan di dalam perut buminya yang subur, ada di dalam lautnya yang luas dan di atmosfernya yang berpelangi. Mungkin tidak ada negara di dunia ini seberkah Indonesia.
Sekali lagi, bayangkan, sektor pertambangan saja kalau dikelola secara baik, tanpa kebocoran, hasilnya akan begini : setiap warga negara Indonesia dari bayi baru lahir sampai yang lanjut uisa akan mendapat bagian Rp 20 juta perbulan. Itu kata Abraham Samad ketika ia menjabat Ketua KPK 2013-2014. Itu hasil studi KPK bersama pakar ekonomi pertambangan AS.
Ini baru dari sektor pertambangan. Bagaimana dengan sektor lainnya seperti kelautan, kehutanan, perkebunan, Industri, perdangan dan lain-lainnya? Bagaimana rakyat tidak sejahtera? Kenyataannya, seperti kata Anda : paradoks. Hasil kekayaan negeri ini hanya dinikmati beberapa orang : pejabat dan pengusaha hitam. Rakyatnya, menurut World Bank, sebesar 60,3 persen miskin. Memilukan, memang. Karena itu Saya nasihatkan Anda untuk serius dalam hal ini.
7. Jalankan hukum dan tegakkan lah keadilan, karena sejatinya esensi dari bernegara dan berpemerintahan adalah untuk menata kehidupan rakyat demi harmoni dan kemajuan bersama. Maka, perlakukanlah semua warga negara sama di depan hukum. Jangan biarkan ada warga negara, karena jabatan atau alasan lainnya, memiliki keistimewaan dan tidak tersentuh hukum. Hukum harus sama tajam ke bawah dan ke atas. Bahkan, dalam penerapannya, mestinya hukum lebih tajam ke atas dibanding ke bawah karena dampak kerusakan negara utamanya adalah dari atas.
Jangan rampas atau jangan biarkan dirampas, hak-hak rakyat. Hukum harus mampu melindungi yang lemah, mencegah yang kuat berlaku semena-mena. Jangan pula hukum (undang-undang) dibuat atau dirubah untuk kepentingan orang atau kelompok tertentu. Rakyat ingin diperlakukan secara adil.
Bila hukum tajam ke bawah tumpul ke atas –sebagaimana yang Anda sering pidatokan tantang fakta hukum saat ini, lalu rakyat lemah tidak terlidungi dari kesemena-menaan penguasa, hak-hak rakyat dirampas, hasil kerja mereka juga “dirampas” dengan dalih pajak, kekayaan alamnya dikuras oleh elit penguasa, suara jeritan mereka diabaikan dan bahkan sering dituding sebagai ancaman terhadap stabilitas kemanan negara, maka diksi apa lagi yang tepat digunakan untuk menggambarkan keadaan ini selain penindasan dan penjajahan ? Ini adalah penindasan, penjajahan yang sesungguhnya.
Insaniyah, tidak ada yang mau dijajah. Manusia diciptakan Allah memang sebagai makhluk yang merdeka. Karena itu, akal sehat akan menerima dan mendukung setiap gerakan revolusi untuk membebaskan diri dari penjajahan. Tentu, situasi ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak asing yang memang sejak lama sudah mengincar kekayaan Indonesia. Ini berbahaya. Karena itu, tutuplah semua celah yang berbau penindasan terhadap rakyat. Tegakkan hukum, berlakulah adil.
8. Bekerjalah perioitas, utamakan yang sangat peting dan mendesak baginkepentingan rakyat, bangsa dan negara. Hemat saya, perioritas internal saat ini ada tiga –maaf jika salah, yakni : memburu dan menghukum serta merampas harta kekayaan para koruptor tanpa kecuali; menyediakan kebutuhan pokok rakyat dengan harga minimal; membuka seluas-luasnya lapangan kerja sehingga dalam waktu singkat (minimal) tidak lagi ada pengangguran kaum terdidik. Jika tiga hal ini dapat Anda lakukan dalam satu tahun ke depan, Insya Allah inilah prestasi yang terpuji. Rakyat akan berada di belakang membela Anda, kecuali ternak-ternak si koruptor. Tetapi itu tidak seberapa bilangannya.
Janganlah berfikir untuk jadi Presiden periode berikutnya. Karena itu akan sangat mengganggu pikiran dan kinekerja Anda. Anda bisa keliru dalam menentukan perioritas-perioritas kerja untuk bangsa ini. Anda baru menduduki kursi selama 20 bulan, masih ada 40 bulan lagi. Fokuslah pada kerja dengan perioritas. Percayalah, jika Anda tepat menentukan perioritas kerja dan berhasil melaksanakannya, Anda akan bertahta di hati rakyat. Anda tetap diharapkan memimpin negeri ini. Seperti Nelson Mandela dari Afrika yang berhasil membebaskan bangsanya dari penindasan apartheid. Ia diinginkan rakyatnya untuk tetap memimpin. Meski pun ia tidak bersedia dan tidak lagi jadi Presiden, ia tetap dicintai rakyat dan didengar setiap petuahnya. Ia dikagumi bahkan oleh dunia.
9. Indonesia, selain memiliki sumber daya alam yang luar biasa –yang membuat iri banyak negara, memiliki modal sosial yang sangat berharga yang tidak dipunyai negara mana pun di dunia : peduduk muslim terbesar di dunia.
Lain dari itu, ulamanya. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan, tepatnya di abad 19, ulama-ulama Indonesia (nusantara) sudah dikenal dan menjadi guru bagi banyak ulama dunia, baik langsung mau pun tidak langsung. Pemikiran dan kitab-kitab Ulama Indonesia menjadi rujukan bagi banyak da’i dan Perguruan Tinggi Islam di dunia. Hingga waktu yang masih dekat dengan sekarang, di penghujung abad 20 misalnya, Indonesia memiliki Ulama yang disegani di dunia Islam seperti Dr. (HC) Mohammad Natsir, Buya Hamka, Prof. Dr. Rasyidi dan lain-lain. Berbagai organisasi Islam internasional, selalu menempatkan tokoh-ulama Indonesia di jajaran pengurus pentingnya, hingga detik ini.Gerakan Islam Kontemporer
Disamping itu, Indonesia memiliki banyak organisisasi Islam yang punya pengaruh besar (setidaknya jaringan) di dunia internasional, khususnya Dunia Islam. Pengamat Internasional mengakui bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia dengan anggota dan simpatisan tidak kurang dari 100 juta. Semenentara Lembaga pemeringkat data internasional, Seasia Stats, menobatkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terkaya di dunia dengan total aset fantastis: Rp 454 triliun hingga Rp 462 triliun.
Fakta ini membuat Indonesia menjadi penting dan stategis di kancah politik global. Indonesia kemudian disegani, dihormati sekaligus juga dilirik baik oleh negara-negara Islam mau pun bukan. Ringkasnya, jika potensi ini dikelola dengan baik, Indonesia punya potensi dan peluang besar untuk memimpin Dunia Islam dan berperan besar menentukan politik global. Karena itu Saya menasihatkan Anda, kelola lah potensi besar ini, jadilah pemimpin bagi Dunia Islam. Jika tidak, maka Indonesia malah bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik geloal mereka.
10. Bandul kekuatan politik global tampaknya sedang bergerak ke Timur. Arogansi Israel dan kesemena-menaan Amerika telah runtuh. Topeng kejayaan dan kekuatan yang membungkus kejahatan, kekejian dan kelicikan mereka telah terkuak. Perang dengan Iran membuka segalanya. Kini Israel hancur dan dikucilkan dunia, Amerika sempoyongan ditinggal sekutunya. Dunia Islam mengonsolidasi diri. Bagaimana dengan Indonesia ?
Saya menasihatkan agar Anda segera menarik total keanggotan Indonesia dari Board of Peace. Ide untuk mengakui keberadaan dan menjamin keamanan Isreal adalah upaya sia-sia, ibarat menegakkan benang basah. Bersandar kepada kekuatan Amerika Serikat, dalam menghadapi percaturan politik global, ternyata seperti bergantung di dahan yang lapuk. Jadi, keberadaan Indonesia di BoP hanyalah keuntungan bagi Amerika untuk bisa tetap tampil gagah –sebab didukung oleh negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Adalah sangat bijak, bila Anda mempertimbangkan agar Indonesia segera bergabung dengan apa yang diprakarsai oleh Turkey, Pakistan dan Saudi Arabia : Aliansi “NATO” Dunia Islam. Adalah aib besar, bila ternyata NATO Dunia Islam terbentuk dan Indonesia terlambat bergabung. Apalagi tidak bergabung!
Yang Mulia Bapak Presiden Prabowo Subianto, nasihat terbuka ini Saya sampaikan semata-mata didorong oleh rasa cinta yang dalam terhadap negeri kita yang kaya dan indah ini. Saya ingin rakyat kita hidup makmur. Sudah 81 tahun merdeka, sepantasnyalah mereka sudah menikmati hidup sejahtera, harmoni dan bangga akan pemimpinnya yang adil penuh bijaksana dan beribawa di mata dunia. Di samping itu, sebagai muslim, Saya (tentu juga Anda) terikat komitmen untuk saling menasehati akan kebenaran dan kesabaran (QS 103:3). Lebih dari itu, dengan menasihatkan kebajikan mengingatkan Anda untuk tidak berbuat salah, Saya Ingin dicatat sebagai golongan ummat terbaik ( QS 3:110)
Saya, Masri Sitanggang, PhD dari Indian Agricultural Research Institute, New Delhi, India, mantan Dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Medan, bermukim di Medan. Jika ada yang bertanya pada saya (karena nasihat saya ini) : “apa jasamu untuk negara ?” (seperti yang sering ditanyakan Luhut Binsar Panjaitan kepada orang-orang keritis) maka jawab saya : “Belum ada”. Sebab, bekerja sebagai dosen pun saya dibayar oleh negara yang uangnya dari rakyat.
Medan, 30 Juni 2026
Wassalam, (*)
